Monday, April 3, 2017
Sunday, April 2, 2017
Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango
Pendakian Gede Pangrango via jalur Gunung Putri adalah pendakian dengan jalur berat. Hampir di setiap trek adalah jalur menanjak dan sedikit sekali jalan datar. Gunung Gede Pangrango memiliki 3 jalur pendakian resmi yaitu jalur Cibodas, jalur Gunung Putri dan jalur Selabintana. Jalur Cibodas adalah pilihan favorit pertama karena di jalur ini terdapat banyak spot wisata alam yang sangat bagus, dan sumber air berlimpah. Sedangkan jalur Gunung Putri adala jalur yang berat namun kita akan bertemu dengan salah satu pos yang paling bagus dari semua pendakian yakni Alun-Alun Surya Kencana. Adalah lahan yang sangat luas dipenuhi bunga edelweiss dan rerumputan seluas mata memlihat, dan tempat favorit mendirikan tenda bagi para pendaki.
Akomodasi menuju basecamp pendakian via jalur Gunung Putri cukup mudah. Pada dasarnya lokasinya berdekatan dengan jalur Cibodas. Kita bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum, turun di Pasar Cipanas lalu dilanjutkan menuju Gunung Putri.
Karena di kawasan Cianjur khususnya kaki gunung Gede Pangrango memiliki cuaca yang super dingin maka persiapkan terlebih dahulu pakaian yang tebal. Tiket masuk menuju Gunung Gede Pangrango Rp 35.000/orang (lebih lengkapnya cek di sini). Gunung api Gede Pangrango menjadi salah satu gunung favorit para pendaki dan menjadi destinasi banyak wisatawan dari seluruh Indonesia terutama pulau Jawa. Hal tersebut dimaklumi karena gunung Gede Pangrango merupakan Taman Nasional yang isinya adalah wisata alam yang sangat indah dan memiliki kekayaan alam yang dilindungi, ditambah lagi lokasinya yang dekat dengan kota-kota besar di Jawa Barat seperti Bandung dan juga Jabodetabek.
BASECAMP JALUR GUNUNG PUTRI
PETA JALUR PENDAKIAN GUNUNG PUTRI
INFORMASI GUNUNG GEDE PANGRANGO
INFORMASI GUNUNG GEDE PANGRANGO
Nama: Gunung Gede dan Gunung Pangrango
Ketinggian: Gunung Gede (2.958 mdpl), Gunung Pangrango (3.019 mdpl)
Lokasi: Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Letusan terakhir:
Pengelola: Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)
Alamat: Jl. Raya Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat 43253, Indonesia
Telp/fax : +62 263 512776
Tel/Fax: +62-263-519415 [booking]
Email: info@gedepangrango.org [office] | booking@gedepangrango.org [booking]
Facebook : http://www.facebook.com/bbtngedepangrango
Yotube :
Website: http://gedepangrango.org
Nama: Gunung Gede dan Gunung Pangrango
Ketinggian: Gunung Gede (2.958 mdpl), Gunung Pangrango (3.019 mdpl)
Lokasi: Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Letusan terakhir:
Pengelola: Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)
Alamat: Jl. Raya Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat 43253, Indonesia
Telp/fax : +62 263 512776
Tel/Fax: +62-263-519415 [booking]
Email: info@gedepangrango.org [office] | booking@gedepangrango.org [booking]
Facebook : http://www.facebook.com/bbtngedepangrango
Yotube :
Website: http://gedepangrango.org
TARIF LENGKAP: cek di sini
Spot alam: alun-alun/sabana, kawah, air panas, air terjun, telaga
Sumber air: telga biru, air panas, alun-alun surya kencana
Flora: 68 spesies tumbuhan pegunungan, 870 spesies tumbuhan berbunga dan 150 spesies paku-pakuan,
Fauna:
Spot alam: alun-alun/sabana, kawah, air panas, air terjun, telaga
Sumber air: telga biru, air panas, alun-alun surya kencana
Flora: 68 spesies tumbuhan pegunungan, 870 spesies tumbuhan berbunga dan 150 spesies paku-pakuan,
Fauna:
Owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata), anjing ajag (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), biul slentek Melogale orientalis, sejenis celurut gunung Crocidura orientalis, kelelawar Glischropus javanus dan Otomops formosus, sejenis bajing terbang Hylopetes bartelsi, dua jenis tikus Kadarsanomys sodyi dan Pithecheir melanurus. Beberapa jenis burung. Monyet kra (Macaca fascicularis), lutung budeng (Trachypithecus auratus), teledu sigung (Mydaus javanensis), tupai akar (Tupaia glis), tupai kekes (T. javanica), tikus babi (Hylomys suillus), jelarang hitam (Ratufa bicolor), bajing-tanah bergaris-tiga (Lariscus insignis), pelanduk jawa (Tragulus javanicus) dan lain-lain
KERJASAMA INSTANSI
Cagar Biosfer Cibodas
Program Adopsi Pohon
Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol
Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa
Suaka Elang, Pusat Pendidikan dan Konservasi Elang
Kondisi: udara dingin, kabut, bebatuan, sabana, sumber air
WISATA:
Telaga Biru: Danau kecil yang selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.
Air terjun Cibeureum: Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Lokasinya sekitar 2km dari pintu masuk Gunung Gede-Pangrango Cibodas
Air Panas: Air panas ini adalah air dari aliran gunung Gede Pangrango. Letakknya di tengah perjalanan naik sekitar 5km perjalanan saat mendaki Gunung Gede Pangrango.
Kandang Batu dan Kandang Badak: Lokasi berkemah atau camping hanya saja lokasinya tinggi hampir sampai puncak Gunung Gede
Alun-alun Suryakencana: Alun-alun pada pendakian
Kawah: G. Gede (Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru),
Puncak: G. Gede (puncak Gede ), G. Pangrango (Mandalawangi)
Sumber air: Alun-alun Surya Kencana
Jalur pendakian:
Puncak: G. Gede (puncak Gede ), G. Pangrango (Mandalawangi)
Sumber air: Alun-alun Surya Kencana
Jalur pendakian:
Mitos: mitosnya Gunung Gede Pangrango adalah tempat bersemayamnya Eyang Suryakencana (Anak dari penguasa Cianjur yang menikah denga seorang jin perempuan). Eyang Suryakencana ini disebut-sebut sebagai penguasa jin daerah tersebut.
Kismis (kisah misteri):
Kismis (kisah misteri):
Saturday, April 1, 2017
Pohon Rasamala Yang Eksotis Dari Tanah Pasundan

RASAMALA (Altingia excelsa Noronha) adalah sejenis pohon hutan yang banyak tumbuh di Jawa Barat. Pohon ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena kayunya yang kuat dan awet.
Rasamala dapat tumbuh sangat tinggi, hingga mencapai 60 meter. Diduga, species ini berasal dari Pegunungan Himalaya. Ia lalu menyebar melalui Burma, Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Jawa.
Di nusantara pohon ini juga dikenal dengan nama daerah: mala, tulasan dan mandung. Di Birma ia disebut Nantayok, di Laos dinamakan Sop serta Thailand dipanggil dengan sebutan Sop, Hom dan Satu.
Banyak Terdapat di Jawa Barat
Di Jawa, pohon ini hanya ditemukan di Jawa Barat, khususnya pada lokasi-lokasi dengan ketinggian antara 500 dan 1500 m di atas permukaan laut dengan topografi berbukit serta kondisi lembab.
Rasamala juga ditemukan di Sumatera, terutama di Bukit Barisan. Mereka tumbuh secara alami pada lokasi-lokasi lembab dengan curah hujan lebih dari 100 mm per bulan dan tanah vulkanik yang subur.
Rasamala banyak digunakan untuk reboisasi terutama di Jawa Barat. Biasanya ditanam pada jarak rapat, karena pohon muda cenderung bercabang jika mendapat banyak sinar matahari.
Kegunaan Pohon Rasamala
Rasamala menghasilkan kayu yang sangat awet bahkan meski disimpan langsung bersentuhan dengan tanah. Ia juga memiliki bebas cabang yang tinggi, sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan untuk kerangka jembatan, tiang, konstruksi serta bantalan penyangga rel kereta api.
Rasamala juga menghasilkan getah yang berbau harum. Oleh karenanya kerap digunakan sebagai bahan campuran pengharum ruangan.
Penduduk Jawa Barat yang dikenal senang dengan lalapan juga mengkonsumsi daun rasamala yang masih muda dan berwarna merah. Daun Rasamala yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat batuk.
Deskripsi botani Rasamala
Rasamala adalah pohon yang selalu hijau. Tingginya rata-rata mencapai 40-60 m. Tinggi bebas cabangnya sekitar 20-35 m.
Pohon ini bisa mencapai diameter hingga 80-150 cm. Kulit kayu Rasamala bertekstur halus dan berwarna abu-abu. Sementara kayunya berwarna merah.
Pohon Rasamala yang masih muda memiliki tajuk rapat dan berbentuk seperti pyramid. Bentuk ini kemudian berangsur membulat seiring bertambahnya umur.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Daunnya berbentuk lonjong dengan panjang 6-12 cm dan lebar 2,5 – 5 cm dengan letak bergiliran. Tepi daun Rasamala memiliki bentuk khas yaitu bergerigi halus.
Rasamala memiliki bunga berkelamin satu. Bunga jantan dan betina terpisah pada pohon yang sama. Malai betina terdiri dari 14-18 bunga dan berkumpul menyerupai kepala.
Buah dan benih Rasamala
Buah Rasamala berwarna coklat seperti kapsul dan memiliki ukuran diameter 1,2 – 2,5 cm. Ia terdiri 4 ruang. Setiap ruang berisi 1-2 benih yang telah dibuahi dan benih yang tidak dibuahi yang jumlahnya mencapai 35 butir.
Benih Rasamala berbentuk pipih dan dikelilingi sayap yang berbau aromatik. Setiap kilogram benih terdiri 177.000 butir atau 75.000 benih/liter. Ia memiliki sistem perkecambahan epigeal.
Musim berbunga dan berbuah Rasamala
Rasamala berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Namun mencapai puncaknya pada bulan April-Mei. Saat terbaik untuk pengumpulan benih adalah pada Agustus-Oktober.
Vektor penyerbukannya belum di ketahui. Namun berdasarkan karakter bunganya yang tidak memiliki kelopak dan mahkota, benang sari yang sangat berlimpah serta kepala putiknya yang berupa “papila”, diduga ia dibantu oleh angin untuk berkembang biak. Baca Juga: Pohon Mindi Si Cepat Tumbuh yang Kaya Manfaat
Panen buah Rasamala
Buah Rasamala harus segera dikumpulkan sebelum warnanya berubah hitam. Karena apabila terlambat, buah tersebut mungkin telah kosong karena benih sudah terpencar.
Benih diekstraksi dengan melakukan penjemuran selama 2 hari. Atau bisa juga dengan menggunakan pengering benih dengan suhu 38-420 C selama 20 jam.
Dengan perlakuan tersebut, buah akan terbuka sehingga benih mudah diekstraksi. Untuk memilah benih dapat dilakukan berdasarkan berat dengan menggunakan meja sortasi.
Penyimpanan dan viabilitas Rasamala
Viabilitas benih Rasamala cepat menurun sehingga hendaknya segera ditabur. Hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor menunjukkan bahwa viabilitas dapat dipertahankan hingga 12 minggu apabila benih dikeringkan hingga kadar air 5-8 % kemudian dimasukkan wadah plastik kedap udara dan disimpan di dalam ruang sejuk suhu 5-8_C.
Penaburan dan perkecambahan Rasamala
Sebelum ditabur benih harus direndam di dalam air selama 24 jam. Media tabur yang digunakan biasanya adalah campuran pasir – tanah dengan perbandingan 1 : 1.
Perkecambahan biasanya mulai terjadi pada hari ke-10. Kecambah yang telah berumur 1 bulan dapat disapih ke polybag yang telah berisi media yang kaya dengan bahan organik.
Sejarah dan Legenda Gunung Gede Pangrango
Gunung Gede Pangrango ditetapkan sebagai salah satu dari 5 taman nasional pertama di Indonesia oleh pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian tahun 1980.
Sejarah awal konservasi di kawasan ini hanya sedikit diketahui, walaupun hutan dan gunung merupakan bagian dari legenda-legenda di tanah Sunda. Tampaknya ada jalur sejarah dari kota tua Cianjur sampai Bogor melalui Cipanas. Bagian lereng pegunungan yang rendah, tidak rata dan berteras-teras dulunya digunakan untuk pertanian dengan pergiliran tanaman.
Dikenalkannya tanaman teh sebagai tanaman perkebunan memberikan dampak nyata bagi kawasan ini. Teh varietas Jepang telah ditanam sejak tahun 1728, dan perkebunan ini terbentang mulai dari Ciawi sampai Cikopo di tahun 1835. Kemudian, tahun 1878, teh Assam diperkenalkan dan tumbuh dengan sangat baik, menyebabkan ekonomi dan kondisi lingkungan di kampung-kampung dilereng pegunungan berubah.
Sejarah panjang kegiatan konservasi dan penelitian dimulai sejak tahun 1830 dengan terbentuknya kebun raya kecil di dekat Istana Gubernur Jenderal Kolonial Belanda di Cipanas, dan kemudian kebun raya kecil ini diperluas sehingga menjadi Kebun Raya Cibodas sekarang ini. Pemerintahan Kolonial Belanda sangat antusias untuk meningkatkan tanaman-tanaman penting dan bernilai ekonomis serta perkebunan komersial, sehingga dibanguna suatu stasiun penelitian dan percobaan pertanian di dataran tinggi ini. Tidak lama setelah itu, botanis-botanis lokal kemudian mulai tertarik untuk meneliti keanekaragaman tumbuhan disekitar pegunungan ini. Abad 19 merupakan masa-masa terbesar dan penting dalam sejarah koleksi tumbuhan , dan Cibodas menjadi salah satu lokal koleksi tumbuhan saat itu.
Tahun 1889, areal hutan antara Kebun Raya Cibodas dan Air Panas ditetapkan sebagai Cagar Alam. Setelah tahun 1919, suatu kawasan cagar alam ditetapkan. Komitmen utama dimulai tahun 1978, ketika kawasan seluas 14,000 hektar, yang terdiri dari 2 puncak utama dan lerengnya yang luas, ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Gunung Gede Pangrango. Akhirnya, tahun 1980, seluruh kawasan terpisah-pisah ini digabung menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Legenda dan Kepercayaan
Pencarian sampai bagian dari kawasan Gunung Gede dan Pangrango yang terdalam, anda tidak akan terkejut untuk menemukan bahwa kawasan ini kaya dengan sejarah dan legenda. Cerita-cerita tersebut menjadi kunci kepada kekaguman kita terhadap gunung ini.
Di Cibeureum, ada suatu batu besar di air terjun Cikundul. Menurut legenda setempat, tempat formasi batu tersebut berada dahulu merupakan tempat dimana seorang yang dipercayai sangat sakti sedang bersila dan melakukan meditasi, saking lamanya bersila dan meditasi, akhirnya orang sakti tersebut berubah menjadi batu. Pada hari kiamat, dipercayai bahwa dia akan berubah wujud menjadi manusia kembali. Dalam cerita ini, kejadian alam dan spritual tidak dapat dipisahkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Pendakian Gede Pangrango via jalur Gunung Putri adalah pendakian dengan jalur berat. Hampir di setiap trek adalah jalur menanjak dan sedik...
